semua orang pasti dah teu kalo tanggal 9 April 2009 pemerintah punya gawe . . . apa anak-anak????? yap betul, pemilu untuk anggota legislatif. jujur aja ni, pilian legislatif ini gua GOLPUT alias gak nyontreng. alasannya kenapa? kayaknya gua gak mood aja mo nyontreng, orang gua gak teu siapa yang mau gua pilih. Gua gak pernah teu track record-nya kayak apa, kiprahnya seperti apa, tau-tau minta didukung. Daripada gua nyontreng yang gak jelas, mending gak usah (ini opini saya lho). Kalo pas Pilian Presiden baru ntar gua nyontreng. Beberapa temen ada yang bilang kalo golput tu haram. Mereka dapaet referensi dari fatwa MUI.
Fatwa MUI bilang katanya golput itu haram. Sedangkan setau gua yang namanya haram tu kalo dikerjakan dapet pahala kalo gak dikerjakan berdosa. Sedangkan memberikan suara pas pemilu dengan cara nyontreng itu kan hak kita, terserah kita mau nyontreng siapa, terserah kita juga mau ngasih suara apa enggak. Itu kan namanya hak. Lha kalo hak aja di kasih limitasi kayak gitu trus termasuk pelanggaran HAM gak?
Tapi forget it lah. Yang jadi pokok bahasan disini adalah berdasarkan dalil apa MUI bisa ngluarin fatwa kayak gitu? Beberapa bulan lalu, atas "pesanan" (pesanan dalam tanda kutip, red) Kak Seto MUI sempat mengeluarkan fatwa rokok, yang intinya merokok itu haram bagi kaum wanita dan anak-anak. Kalo menurut gua si, haram ya haram aja. bukan cuma buat wanita dan anak-anak, tapi buat semua orang. Kalo alsannya karena masalah kesehatan si masih mending.
Kembali ke laptop, fatwa MUI yang satu ini juga gak kalah lucu buat gua. Fatwa haram golput yang notabene adalah "pesanan" dari Ketua PKS siapa lagi kalo bukan Pak Hidayat Nur Wahid. Alasannya pasti udah pada tau kan dari berita di tv. Katanya si para simpatisan partai itu tadinya pada mau golput karna suatu alasan, nah biar gak pada golput so keluarin aja larangan golput. Berati kasarannya, yang nyontreng dapet pahala dan yang gak nyontreng dosa. Padahal yang namanya orang enggak nyontreng kan pasti ada alasannya. Nah alasannya itu kan kita gak teu. Ada yang gak bisa pulang kampung lah, ada yang udah berKTP tapi gak dapet surat pemberitahuan lah. Emang si, pemerintah menyediakan tempat pemilihan untuk para perantau, tapi syaratnya susah dipenuhi. Kebanyakan temen gua dari luar jawa pada ribet katanya ngurus surat A5. Nah kalo alasan yang satunya pasti banyak yang ngalamin, dah punya KTP selama sekian tahun tapi gak dapet surat pemberitahuan nyontreng. Dan parahnya, Amrozi yang notabene udah almarhum malah dapet surat pemberitahuan. Hayo, berarti datanya gak di-update ya . . . ?
Balik maning nang laptop. Penjelasan versi MUI nya langsung. Pak Amidhan sang ketua MUI memberi penjelasan sebagai berikut "Sebetulnya, fatwa mengharamkan golput tidak usah dikeluarkan karena kan yang golput tidak bisa dikatakan berdosa. Paling-paling, kita hanya bisa memberikan imbauan kalau masyarakat diwajibkan berpartisipasi untuk memikirkan nasib bangsa pada Pemilu nanti. Jadi, istilahnya imbauan saja, bukan fatwa" (Source : KOMPAS)
Denger sendiri kan kata Pak Ketua MUI. Jadi, intinya semua terserah Anda. Memberikan suara karena memang betul-betul tau dan ingin berpartisipasi dalam menentukan wakil-wakil kita ya monggo. Enggak memberikan suara karena suatu alasan ya monggo. semua terserah Anda, karena itu memang hak Anda.
(special song from COKLAT - 5 menit untuk 5 tahun)
0 comments:
Post a Comment